Sungkem dengan Pak Ketua Angkatan 93

burhan02Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan sepucuk sms dari Titin 96, mengabarkan kalau sekarang tinggal di Jogja. Kalau begitu Sang Suami, Pak Burhan, juga tinggal di Jogja juga, pikirku. Aku pernah berencana mau mengunjungi mereka di Padang. Rupanya Allah belum mengijinkan aku untuk berjumpa mereka di Padang. Allah menakdirkan kami bertemu di kota gudeg, Yogjakarta.

Setelah beberapa lama aku menunggu Pak Burhan datang di Jogja dan mencari waktu untuk bisa berkunjung ke rumah Pak Burhan, akhirnya kami janjian hari Rabu malam, 14 Jan 09. Aku mengajak Muh ‘memet’ Amat yang sudah bertahun-tahun mengelana di kota Jogja untuk mencari rumah Pak Burhan.

Hujan dan badai tidak menghalangi kami untuk pergi. Di bawah derasnya air hujan dan gelapnya malam, kami berdua melaju menuju Godean. Setelah beberapa kali kesasar dan tanya sana-sini, akhirnya kami temukan juga alamat yang dikirim lewat sms. Sms yang panjang (untuk ukuran sms) namun sulit diikuti petunjuknya. Kalau bukan karena Memet yang sudah hafal betul wilayah ini, mungkin kami tidak akan pernah sampai.

Kurang lebih 11 tahun aku tidak bersua dengan Pak Ketua. Waktu itu kira-kira setahun aku mengalami kampus phobia, trus ditambah setahun penelitian, dan langsung bablas ke Bogor dan Jogja selama 9 tahun. Total jadi 11 tahun. Pak Ketua tipikal aktivis kampus sejati. Aku dan Memet ikut bantu-bantu beliaunya di UKI dan di Senat. Bersama Samsu, Hendri, Memet, dll, pernah juga kami ngaji bersama. Meskipun aku tidak selalu sependapat dengan pandangan-pandangan politiknya kami tetap kompak bekerja sama.

Pak Ketua menyambut kami dengan tawa khasnya. Rasanya seperti kembali ke tahun-tahun waktu masih jadi mahasiswa dulu. Kami ketawa dan bercanda. Tak banyak yang berubah dari Pak Ketua, hanya BB-nya saja yang terlihat lebih berbobot dan lebih berotot. Rambutnya sedikit tipis dan rapi di sisir ke belakang. Tetapi kalau diamati lebih detail, umur memang tidak bisa bohong.

burhan01
Ngak nyangka, ternyata Pak Ketua ngincer adik kelas juga.

Titin mendapatkan tugas baru dari pemerintah untuk menemani Mbah Marijan jagain gunung Merapi, karena itu mereka pindah ke kota Jogja yang berada di kakinya. Tugas yang mulia mengingat gunung Merapi dan Merbabu mulai tidak lestari lagi. Gunung yang sering ‘batuk-batuk’ ini memang perlu dijaga. Mbah Marijan sudah tidak bisa dibiarkan sendiri. Kesibukannya sebagai selebriti plus bintang iklan membuat Merapi sedikit terabaikan. Selain itu, tangan-tangan jahil banyak mengeruk pasir dan merusak kelestarian gunung kebangaan ini.

memet_isroi_burhan
Pamer gigi. Hayoo…gigi siapa yang paling kuning…????

Sejurus kemudian kami sudah kembali ke tahun-tahun yang silam. Sebelas tahun serasa seperti kemarin sore. Ditemani kopi dan sepiring ‘cake’ plus ketela ‘balado’ kami ngobrol ke sana – ke mari. Mulai dari Purwokerto, lalu terbang ke Sumatera, mampir sebentar ke Jabodetabek. Tak lupa nyebrang laut ke Kalimantan. Sesekali kami ikut sedih dengan nasip saudara-saudara kita di Palestina. Lebih geram lagi dengan komentar tokoh kontraverisal NU, Gus Dur, dan kelompok JIL.

Malam semakin larut dan hujan masih setia menemani kami. Waktu terus melaju tanpa terasa dan memaksa kami untuk segera pulang. Seperti waktu datang, kami pulang menembus derasnya hujan. Silaturahmi sejenak yang banyak menghapus rasa kagen kami. Selamat datang di Kota Gudeg, Pak Ketua.

memet_burhan

Iklan

2 responses to “Sungkem dengan Pak Ketua Angkatan 93

  1. selamat datang ke yogya sobat. kumpul lagi. kapan-kapan biso ngobrol bareng

  2. pak ketua, apa kabar? kelingan aku ora? deddy………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s